Letusan Gunung Marapi Sumatra Barat

Gunung Marapi di Sumatera Barat sudah meletus hingga puluhan kali sejak tahun 1800-an. Catatan aktivitas Gunung Merapi yang terdata oleh BMKG menyebutkan pada 1807-1822 terjadi letusan dahsyat.

Letusan disertai kepulan asap hitam kelam, lelehan lava dan kembang api merah tua. Setelah itu muncul awan dan abu selama setengah hari. (du Puy, 1845, p.12; Junghuhn, p.139-1240).

Tercatat sepanjang 1833 hingga 1888 terjadi 12 kali letusan. Salah satu yang terbesar terjadi pada 2 Oktober 1855. Saat itu letusan juga disertai dengan gempa serta munculnya tiang asap dan suara gemuruh terus-menerus. Pada sore hari terlihat bara api, abu vulkanik, dan banyak batu api terlempar.

Kemudian, pada 4 April 1876 terjadi letusan disertai awan dan abu hitam. Selanjutnya pada Agustus tahun yang sama bongkahan lava sebesar 10-12 meter persegi terlempar sejauh 280 meter.

Pada Agustus sampai Desember teramati letusan lava, abu, dan suara ledakan. Sejak itu terjadi setidaknya 10 kali letusan besar dan kecil.

Rentetan aktivitas kembali terjadi pada 31 Maret 1886. Disusul pada 1-2 April terdengar gemuruh keras dan hujan abu. Pada 18 dan 27 April letusan disertai hujan abu sampai ke Sumpur dan Simawang. Kemudian letusan pada 1-3 Mei menimbulkan gempa.

Dua tahun kemudian tepatnya 19-20 Februari 1888 terjadi letusan disertai abu dan batu pijar. Pada 20 Februari terdengar dua kali ledakan dan gempa. Di kawasan Tiku, hujan abu terjadi selama dua jam. Sehari kemudian muncul tiang asap hitam setinggi sekira 400 meter selama beberapa jam.

Sepanjang 1900-an salah gunung paling aktif di Indonesia kembali menunjukkan aktivitas. Pada 16 dan 18 Juni 1917 terjadi ledakan dan hujan abu. Pada 16 September terjadi letusan besar dan turun hujan abu sampai Bukittinggi.

Kemudian pada 28 Maret 1919 terjadi ledakan dan awan abu. Setelah itu muncul bongkahan lava terlempar ke arah barat daya. Enam tahun kemudian seorang peneliti Ziegler melihat sumbat lava hitam di dasar kawah.

Kemudian pada 5 Februari 1927 terjadi letusan dengan asap berbentuk kembang kol. Abu sampai di Padang Panjang. Pada 6 dan 7 Februari terjadi letusan kecil di Kepundan Bungo.

Pada 11 Februari turun hujan abu di Padang Panjang. Pada 28 April pukul 17.10 WIB letusan abu, asap sampai setinggi sekira 2.000 meter. Dari akhir Mei sampai akhir Juni tercatat beberapa kali letusan hingga pada 3 Agustus terlihat tiang asap setinggi 3.000 meter.

Aktivitas gunung kembali meningkat pada 1930, 1949, 1952, 1971, dan 1973.

Pada 1973 terdeteksi peningkatan kegiatan sulfatara di Kawah B, C, dan Bungsu. Pada 24 Juli letusan gas dalam Kawah Verbeek berwarna kehitam-hitaman setinggi 100 meter.

Dari data Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi pada 1 hingga 10 Nevember 2005 telah terjadi letusan sebanyak 98 kali, gerakan vulkanik A satu kali dan vulkanik B sebanyak 21 kali.

Kemudian pada 3 Agustus 2011 Gunung Marapi memuntahkan abu vulkanik ke lima kabupaten dan kota sejauh 30 kilometer. Sementara muntahan abu vulkanik mengangkasa setinggi 1.000 meter.