Isi Surat Pong Harjatmo untuk Presiden SBY

Foto / Gambar Surat Pong Harjatmo untuk Presiden SBY Surat pesakitan Nazaruddin yang dibalas Presiden SBY membuat ‘iri’ aktor lawas Pong Harjatmo. Dia ikut-ikutan menyurati SBY dan berharap dibalas segera.

Sebelum surat itu dikirimkan, meniru aksi kubu Nazar, surat itu dibacakannya kepada publik lebih dulu. Dia membacakan surat itu di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kalau Nazaruddin bisa langsung dibalas, saya juga mau seperti itu. Kita kan memiliki hak yang sama,” ujar Pong sebelum membacakan suratnya, Selasa (23/8/2011) di kantor KPK, Jl Rasuna Said, Jaksel.

Bedanya, jika surat Nazaruddin diketik rapi, surat dari Pong berbentuk tulisan tangan. Ada enam hal yang disasar oleh Pong dalam suratnya. Berikut surat dari Pong:

Kepada

Yth Bpk Susilo Bambang Yudhoyono

Presiden RI

Di Tempat

Saya Pong Harjatmo rakyat Indonesia ingin mendapat hak yang sama seperti Nazaruddin, berkirim surat dan langsung dibalas oleh bapak. Bapak mohon segera menjawb ucapan janji Bapak dengan tindakan nyata.

1. Bapak berkata kasus-kasus akan dituntaskan. Rakyat berharap Bapak akan menuntaskan.

2. Bapak pernah berkata, jangan jadi pepesan kosong. Buktikan Bapak bukan pepesan kosong.

3. Bapak bersama jajaran berkata: katakan tidak pada korupsi.

4. Keempat, Bapak berkata: sebenarnya momentum yang tepat untuk memberantas korupsi.

5.Rakyat jangan diberi janji seperti waktu berkampanye. Sekarang momentum Bapak harus buktikan.

6. Rakyat diombang-ambingkan oleh hukum dan keadilan. Rakyat berharap Bapak dapat bertindak jujur, adil dan tegas.

Hormat Kami

Pong

Kenapa surat itu dibacakan di kantor KPK? “Kemarin mengapa Nazaruddin baca di sini?,” tanya balik Pong kepada wartawan.

“Ya karena Nazaruddin usai menjalani pemeriksaan,” jawab wartawan.

“KPK ini kan lembaga penegak hukum dan keadilan. Karena di sini ditangani berbagai koruptor termasuk Nazaruddin. Setelah ini saya langsung ke Istana untuk menyampaikan surat,” jawab Pong yang namanya kembali terdongkrak setelah beraksi coret-coret di gedung DPR.