TKW Sumartini Diduga Lakukan Sihir

Foto TKW Sumartini Hukuman Mati Arab Saudi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Mohammad Jumhur Hidayat mengaku sudah mengetahui perihal TKW Sumartini binti Manaungi Galisung (33) yang terancam hukuman mati.

“Duta Besar sedang bersurat kepada kerajaan di sana untuk meminta pengampunan dan pengacara di sana yang ditunjuk oleh KBRI sedang proses naik banding,” terang Jumhur di kantor pusat DPP AAI, Jakarta Pusat, Kamis, 30 Juni 2011.

Menurut Jumhur, berdasarkan laporan pengacara tersebut, kasus yang membelit Sumartini sangat sumir karena tuduhannya adalah sihir kemudian memberikan racun kepada anak pengguna jasa di sana dan akhirnya meninggal.

“Tapi kan itu sumir sekali, kok sihir? Orang Indonesia juga kan nggak mengenal sihir. Kan harus dibuktikan apakah itu sihir betul atau bukan. Kalau di kita kan tidak mengenal pengadilan sihir. Ini yang sedang diperjuangkan oleh pengacara,” ujarnya.

Diakui Jumhur, langkah ini belum terlambat karena putusan pengadilannya masih dalam proses banding di tingkat dua. “Jadi tidak langsung putus diterima dan hukuman. Putusan pertama dia memang dinyatakan bersalah tetapi kemudian banding. Duta besar kita sudah mengirim surat ke Kerajaan untuk meminta pemaafan. Jadi ada dua jalan, pemaafan dan pembuktian dia benar tidak membunuh, jadi dua-duanya berjalan,” terang dia.

Ditambahkan Ketua Umum DPP AAI, Humphrey Djemat, pengacara yang ditunjuk oleh KBRI disana berfungsi untuk pendampingan dan sampai saat ini masih meminta laporan dari pengacara di sana karena dia yang mengetahui persis kasusnya sehingga bisa melihat pembelaan seperti apa yang bisa dilakukan.

“Bahasa hukum itu kan universal. Kalau misalnya di Indonesia klinik sihir itu tidak bisa digunakan sebagai alat bukti rasanya secara logika di luar negeri juga sama,” terang dia.

Sumartini adalah TKW yang berasal dari Desa Kukin, Kecamatan Moyo Utara, Nusa Tenggara Barat. Kabarnya, ia berangkat ke Arab Saudi melalui PT Duta Sapta Perkasa.