Syahrini Digugat 400 Juta

Syahrini (VIVAnews/ Muhamad Solihin) Syahrini digugat Cafe Blue Ice, Bali, karena mangkir dari jadwal manggung di cafe itu pada 27 Januari 2011. Namun penyanyi yang baru mendapat kontrak Rp4 miliar dari label rekaman Pelangi Record itu tak gentar.

“Jangan sampai (Anda) dibodohi tampilan seorang lawyer. Background saya adalah sarjana hukum, lulusan Fakultas Hukum akreditasi A,” ujar Syahrini menggertak balik.

Syahrini pun menjelaskan kronologis ketidakhadirannya di Blue Ice dalam konferensi pers bersama tim pengacara, pihak manajemen, pihak label rekaman, dan keluarga Syahrini. Pengacara Syahrini, Warsito Sanyoto, menjelaskan, Syahrini tidak dapat memenuhi jadwal manggungnya di Blue Ice karena pada sore hari tanggal yang sama, ayahanda Syahrini divonis koma dan dalam kondisi kritis.

Warsito menyatakan, sebetulnya pada pagi hari tanggal 27 Januari itu, kru Syahrini telah diberangkatkan ke Bali untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait pertunjukkan Syahrini pada malam harinya. “Ini adalah itikad baik Syahrini. Tapi jam dua siang, ayah Syahrini koma. Lalu jam empat sore, beliau kritis dan hidupnya sudah tergantung pada mesin. Kalau mesin diputus, beliau wafat,” jelas Warsito di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dalam keadaan genting itulah, katanya, pihak keluarga Syahrini lantas memutuskan Syahrini tidak memungkinkan untuk terbang ke Bali. Sebagai pemberitahuan kepada manajemen Blue Eyes, manajemen Syahrini lantas menyiapkan surat pemberitahuan berisi permintaan maaf disertai surat keterangan dokter dari MMC mengenai kondisi ayah Syahrini yang kritis.

“Kami sampaikan secara tertulis melalui fax. Kami juga sudah e-mail. Kami bahkan melampirkan video dan foto-foto terkait kondisi kritis ayah Syahrini,” papar Warsito. Oleh karena itu, tegasnya, pihak Syahrini telah memenuhi perjanjian, apabila Syahrini membatalkan penampilan pada hari H, maka ia harus bisa menunjukkan sebab-sebabnya.

“Tepat jam tiga pagi, ayah Syahrini kemudian wafat di pangkuan Syahrini. Jadi bisa dibayangkan apabila saat itu Syahrini berangkat pada malam harinya, dan ia tidak dapat melihat detik-detik terakhir hidup ayahnya. Hal itu akan menjadi trauma seumur hidup bagi yang bersangkutan,” terang Warsito. Ia pun heran, kenapa masalah terus bergulir dengan alasan Syahrini tidak merespon somasi Blue Eyes.

Warsito menyatakan, dua somasi dari kuasa hukum Blue Eyes telah mereka jawab. “Kami jawab, ini bukan merupakan faktor kesengajaan. Ini force majeur –suatu keadaan yang benar-benar di luar kuasa manusia. Betul-betul musibah. Kami bahkan telah memberitahu kronologisnya,” tandasnya. Ia pun menambahkan, tidak benar bila dikatakan Syahrini membatalkan perjanjian secara sepihak.

“Pembatalan perjanjian itu kalau terjadi dari jauh hari sebelum hari H,” ujar Warsito. Ia mengingatkan, baik Syahrini maupun Syahrani, manajer Syahrini, adalah Sarjana Hukum yang pengetahuan hukumnya tidak bisa disepelekan. “Namun sebagai good will, Syahrini akan mengembalikan honor dari kontrak yang sudah diterima sebesar Rp60 juta,” katanya.

Sayangnya, lanjut Warsito, itikad baik Syahrini ini tidak diterima oleh pihak Blue Eyes. Mereka meminta Syahrini untuk mengembalikan seluruh biaya perhelatan, ditambah biaya penyanyi pengganti dan denda seratus persen, sehingga jumlah total adalah Rp400 juta. “Apakah penggugat punya perikemanusiaan? Ini mencari kesempatan dalam kesempitan. Kami akan lawan,” tandas Warsito berang.

“Tapi terima kasih, berkat Blue Eyes, popularitas Syahrini makin naik karena beritanya ramai diperbincangkan dan banyak masyarakat yang bersimpati kepada Syahrini,” imbuh Warsito. Syahrini sendiri menegaskan, dirinya tetap profesional dan tidak melanggar kesepakatan. Ia meminta pihak penggugat untuk menghargai budaya Timur yang ada di bumi Indonesia.

“Sebagai orang muslim, keluarga saya berkumpul mengaji untuk ayahanda yang menjelang detik-detik wafatnya. Apakah tega, sebagai anak, saya meninggalkan ayahanda yang sudah sakaratul maut, dengan berjingkrak-jingkrak bernyanyi,” tukas Syahrini geram.

Ia semakin heran dengan gugatan Blue Eyes yang dinilainya tak masuk akal, karena ternyata ketidakhadiran dirinya di Blue Eyes tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan acara.

“Kru saya di sana mengatakan, acara berjalan sukses karena ada Titi DJ,” tutur Syahrini. “Jangan mengira, kalau sering tampil di TV (dirinya), lantas saya tidak mengerti hukum,” tandasnya. Apapun, Syahrini bersedia untuk menghadiri sidang perdana gugatan terhadap dirinya itu.

“Saya seorang sarjana hukum. Jadi Insya Allah, kalau disinyalir tidak mengganggu aktivitas, saya akan hadir,” tutup Syahrini. (VIVAnews)