Isi Surat Terbaru Khadafi untuk Obama

Demonstran membawa poster anti pemimpin Libya Moammar Khadafi (AP Photo/Evan Vucci) Pemimpin Libya, Muammar Khadafi, menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama. Isinya, selain memohon AS agar berhenti menyerang negaranya, Khadafi pun berharap agar Obama sukses menang lagi pada pemilihan umum tahun depan.

Menurut kantor berita Associated Press (AP), kantor dan rumah kepresidenan AS (Gedung Putih) membenarkan adanya surat Khadafi kepada Obama, Rabu waktu setempat. Namun, juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan bahwa ini bukan kali pertama Khadafi menyurati Obama. Pertama dilakukan pada 19 Maret lalu, atau menjelang serangan udara Koalisi ke Libya.

Seperti surat sebelumnya, Khadafi kembali menyebut Obama sebagai “putra kami.” Tampaknya, Khadafi ingin mengingatkan Obama bahwa dia adalah anak Afrika karena ayahnya adalah orang Kenya. Libya pun merupakan bagian dari Afrika.

Berikut ini adalah kutipan surat terbaru Khadafi untuk Obama tertanggal 5 April 2011. Bocorannya berhasil didapat AP dan dimuat di laman blog yang dikelola harian The New York Times.

Putra Kami, Yang Mulia, Presiden Obama dari Amerika Serikat,

Kami telah menderita secara moril dan fisik karena apa yang telah terjadi kepada kami. Meski demikian, Anda akan selalu menjadi putra kami apapun yang terjadi.

Kami tetap mendoakan Anda agar terus menjadi presiden AS. Kami mencoba dan berharap Anda akan menang pada pemilu mendatang. Anda adalah seorang pria yang punya cukup keberanian untuk mencabut tindakan yang salah. Saya yakin bahwa Anda mampu mengembang tanggungjawab itu.

Sudah cukup bukti bahwa Anda adalah presiden dari negara adidaya pada saat ini dan sejak NATO melancarkan perang yang berat sebelah atas rakyat kecil di negara yang berkembang. Negara ini sudah menjadi target embargo dan sanksi, dan harus menderita lagi akibat agresi militer bersenjata secara langsung selama kepresidenan [Ronald] Reagan.

Negara ini adalah Libya. Maka, demi mendukung perdamaian dunia… Persahabatan antar kedua bangsa… dan demi kerjasama ekonomi dan keamanan melawan teror, Anda berada dalam posisi untuk membuat NATO tidak lagi ikut campur atas urusan Libya demi kebaikan.

Seperti yang Anda sudah sangat paham, demokrasi dan pembangunan masyarakat sipil tidak bisa dicapai lewat rudal dan pesawat tempur, atau dengan mendukung kelompok bersenjata Al Qaeda di Benghazi.

Anda sendiri di banyak kesempatan, salah satunya di Sidang Majelis Umum PBB – yang saat itu saya hadiri – mengatakan bahwa Amerika tidak bertanggungjawab mengurus keamanan orang lain. Amerika hanya menolong. Itu adalah logika yang tepat.

Putra kami yang terhormat, Yang Mulia Baraka Hussein Abu oumama, intervensi Anda atas nama AS adalah suatu keharusan, sehingga NATO pada akhirnya akan meninggalkan urusan Libya, yang harus diselesaikan rakyat Libya dalam kerangka Uni Afrika.

Maka ada dua masalah yang mengemuka:

1. Ada intervensi NATO, baik secara politik maupun militer.

2. Teror yang dilakukan geng-geng Al Qaeda yang telah dipersenjatai di beberapa kota dan, dengan paksaan, tidak memperkenankan rakyat kembali kepada kehidupan normal mereka, dan melanjutkan penerapan kekuatan sosial rakyat seperti biasa.

Mu’aumer Qaddaffi

Pemimpin Revolusi

Tripoli 5.4.2011